Selasa, 16 Januari 2018

Budidaya Lele dengan Teknologi Bioflok

Budidaya Lele Teknologi Bioflok

Bioflok berasal dari kata “Bios” yang artinya Kehidupan dan “floc” atau “Flock” yang artinya adalah gumpalan, jadi yang dimaksud bioflok adalah kumpulan dari berbagai organisme (bakteri, jamur, algae, protozoa, cacing, dll) yang tergabung dalam flok atau gumpalan.
Sistem kerja dari bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa kabon (C), hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N) dan sedikit unsur fosfor (P) menjadi gumpalan berupa flok dengan menggunakan bakteri pembentuk flok yang mensintesis biopolimer polihidroksi alkanoat sebagai ikatan bioflok.
Bakteri pembentuk flok dipilih dari bakteri yang memiliki karakteristik:
  • Non patogen, 
  • Memiliki kemampuan mensintesis polihidroksi alkanoat (PHA)
  • Memproduksi enzim ekstraselular, 
  • Memproduksi bakteriosin terhadap bakteri patogen, 
  • Mengeluarkan metabolit sekunder yang menekan pertumbuhan dan menetralkan toksin dari plankton merugikan dan
  • Mudah dibiakkan di lapangan.
Terbentuknya flok secara sederhana dijelaskan sebagai berikut: Mikroorganisma seperti bakteri dengan daya lisis bahan organik memanfaatkan detritus sebagai makanan. Sel selnya mensekresi lendir metabolit, biopolimer (polisakarida, peptida dan lipid) atau senyawa kombinasi dan terakumulasi di sekitar dinding sel detritus. Ikatan didinding sel bakteri menyebabkan munculnya flok bakterial. Polimer ekstraseluler yang dibentuk bakteri berfungsi sebagai jembatan penghubung (panjang dapat mencapai 50 µm). Dua senyawa biopolimer dengan gugus karboksil (COOH) pada bakteri berbeda membentuk ester dengan ion divalen (Ca, Mg). Ikatan-ikatan ini meningkatkan massa kumpulan partikel menjadikan inti kumpulan bersifat hidrofobik (takut air) dan tepinya bersifathidrofilik (suka air) sehingga terjadi dewaterisasi (lebih sedikit air di dalam partikel). Karena ukuran diameter yang membesar maka flok mudah mengendap. Di samping itu, kandungan bahan organik, oksigen dan pH juga berpengaruh terhadap terbentuknya flok. Pembentukan bioflok berkualitas memerlukan perbandingan C:N:P sekitar 100:5:1. Oksigen terlarut di seluruh badan air sebaiknya >4 ppm, jika terlalu rendah menyebabkan perkembangan bakteri filamen. Sedangkan pH yang rendah akan menghambat pembentukan bioflok karena mengurangi kandungan kation divalen dalam air untuk ikatan esterasi.

Teknologi bioflok pada awalnya merupakan adopsi dari teknologi pengolahan limbah lumpur aktif secara biologi dengan melibatkan aktivitas mikroorganisme. Keuntungan teknologi bioflok ini adalah :
  •      Sedikit pergantian air (efisien dalam penggunaan air)
  •      Tidak tergantung sinar matahari
  •      Padat tebar lebih tinggi, bisa mencapai 3000 ekor / m2
  •       Produktifitas tinggi 
  •         Efisiensi pakan, FCR bisa mencapai 0,7
  •         Efisien dalam pemanfaatan lahan   
  •         Limbah lebih sedikit 
  •         Ramah lingkungan 
Beberapa persyaratan umum dalam penerapan teknologi bioflok :
  • Kontruksi kolam harus kuat (beton, terpal atau fiber)
  • Kedisiplinan dan ketelitian
  • Peralatan aerasi
  • Pemahaman terhadap metode teknologi bioflok
     Persiapan Media Budidaya
    
     Untuk menginisiasi tumbuhnya organisme tersebut, biasanya pada kolam ditambahkan kultur bakteri jenis Bacillus sp (B. subtilis, B. licheniformis, B. megaterium, B. polymyxa) atau ragi (jenis Saccharomyces), dan molase/tetes tebu sebagai nutrisi bagi bakteri. Mikroba ini kemudian akan berkembangbiak dan karena media perairan budidaya sistem bioflok sudah dikondisikan, maka tumbuh pula protozoa, mikroalga, ragi dan bakteri-bakteri menguntungkan lainnya.



Penebaran Benih
  •  Benih lele yang ditebar berukuran 7 - 8 cm dengan padat tebar 1000 ekor /m    
  •  Penebaran benih hendaknya dilakukan pada pagi atau sore hari 

Manajemen Pakan
  • Setelah benih ditebar di dalam kolam sebaiknya benh dipuasakan selama 1 - 2 hari sebagai proses adaptasi terhadap lingkungan baru 
  • Tambahkan unsur karbohidrat (tepung terigu atau tepung beras atau tepung tapioka) sebanyak 240 gram per 10 Kg pakan yang diberikan 
  • berikan aerasi yang kuat di dasar kolam hingga permukaan air untuk mempercepat proses pengadukan air sehingga terbentuk flok atau gumpalan 
  • berikan pakan yang difermentasi dengan probiotik jenis lactobacillus selama 2 hari atau maksimal 7 hari

         Cara fermentasi pakan : 2 cc probiotik per Kg pakan yang diberikan, dan ditambahkan          air bersih sebanyak 25 % dari berat pakan, kemudian diaduk merata dan didiamkan              selama dua hari setiap hari dilakukan pengadukan.
  • Pakan diberikan sebanyak 2x sehari dengan porsi sebesar 80 % dari daya kenyang ikan



Pengelolaan Air
Pengelolaan air sangat penting dalam usaha budidaya, kegiatan pengelolaan air dapat dilakukan dengan cara penambahan probiotik ke dalam wadah budidaya






Ahmad Furkon, S.Pi

Sumber:
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, 2013. Budidaya Ikan Lele Teknologi Bioflok.

Rabu, 10 Januari 2018

Peran Penyuluh Perikanan dalam Pengembangan Sektor Perikanan di Kabupaten Sampang



PERAN PENYULUH PERIKANAN DALAM PENGEMBANGAN SEKTOR PERIKANAN di KABUPATEN SAMPANG


Penyuluhan merupakan suatu proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan perilaku. Dengan kata lain kegiatan penyuluhan tidak terhenti pada penyebarluasan informasi, dan memberikan penerangan. Akan tetapi, merupakan proses yang dilakukan secara terus menerus, sekuat tenaga dan pikiran, memakan waktu dan melelahkan, sampai terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh penerima manfaat penyuluhan yang menjadi client penyuluhan (Rohman, 2008). 

Tujuan penyuluhan perikanan adalah berubahnya secara positif perilaku pelaku utama dan pelaku usaha perikanan yang mencakup perubahan dalam hal pengetahuan atau hal yang diketahui, perubahan dalam keterampilan atau kebiasaan dalam melakukan sesuatu dan perubahan dalam sikap dan mental kearah yang lebih baik dengan tujuan akhir penyuluhan adalah kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Potensi perikanan yang ada di wilayah Kabupaten Sampang, meliputi Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya baik air tawar ataupun air payau, Garam Rakyat, Wisata Bahari, dan pengembangan kawasan industri perikanan terpadu. 
Pembinaan di lapang terhadap pelaku usaha dan pelaku utama perikanan dilakukan dengan metode penyuluhan, pendampingan kelompok dan demontrasi cara. Untuk pelaku utama di bidang tangkap Kegiatan pembinaan yang dilakukan meliputi penyuluhan mengenai alat tangkap dan alat bantu penangkapan yang outputnya berupa peningkatan produksi perikanan dari sektor perikanan tangkap dan tujuan ahirnya adalah meningkatnya kesejahteraan pelaku utama perikanan tangkap.


Pembinaan pada pelaku utama pembudidaya adalah dengan melakukan pendampingan kelompok pembudidaya ikan dan penyuluhan kepada pembudidaya ikan mengenai teknis budidaya ikan dengan output berupapeningkatan produksi dari sector perikanan budidaya dan tujuaannya adalah peningkatan kesejahteraan para pelaku utama budidaya ikan.



Pembinaan pada pengolah dan pemasar hasil perikanan dilakukan dengan cara pendampingan terhadap kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan dengan tujuan ahir berupa peningkatan kesejahteraan pengolah dan pemasar hasil perikanan.


Dalam prakteknya, Selain berdasarkan kepada rencana kerja yang sudah dibuat, kegiatan penyuluhan biasanya juga disesuaikan dengan kebutuhan para pelaku utama dan pelaku usaha perikanan.serta disesuaikan dengan kondisi dan situasi tertentu yang bersifat penting. Kendala yang dihadapi di lapangan pada saat melakukan penyuluhan diantaranya adalah masih apatisnya para pelaku utuama dan pelaku usaha dalam mengikuti kegiatan penyuluhan. Salah satu penyebab kurangnya minat para pelaku utama untuk mengikuti penyuluhan adalah pemikiran negatif yang menganggap kegiatan penyuluhan hanya menghabiskan waktu. Para pelaku utama dan pelau usaha menganggap bahwa metode dan cara yang mereka lakukan sudah memberikan hasil yang memuaskan. Sehingga mereka menganggap informasi yang diberikan penyuluh merupakan hal yang tidak penting dan tidak memberi dampak besar terhadap kegiatan yang mereka jalankan. Metode dan cara-cara yang telah digunakan sejak lama dan turun menurun ini tidak mudah untuk diubah atau ditambah dengan inovasi-inovasi yang dibawa oleh penyuluh. 


Berkaitan dengan hal tersebut tentunya perlu kita lakukan pembinaan secara berkesinambungan untuk penyampaian inovasi baru bagi pelaku utama dan keluarganya dengan sistem penyuluhan partisipatif yaitu seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan serta sikap pelaku utama dan pelaku usaha melalui penyuluhan. Sedangkan penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mampu dan mau menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penyuluhan dilaksanakan oleh penyuluh PNS maupun Penyuluh Perikanan Bantu, dalam hal ini penyuluh berperan ; 


1. sebagai motivator dalam menggerakkan pelaku utama untuk berusaha agar lebih maju dan berkembang ; 

2.  sebagai fasilitator penghubung antara pelaku utama dengan instansi pemerintah, sumber teknologi, sumber permodalan dan pasar.

Disamping itu penyuluh sebagai mitra pendamping pelaku utama dalam berusaha dan mengupayakan pemecahan masalah yang dihadapi pelaku utama baik masalah teknis maupun masalah non teknis. Adapun dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penyuluhan perikanan antara lain; 

1. meningkatnya penguasaan teknologi perikanan pada pelaku utama, 

2. meningkatnya kemandirian pada pelaku utama, 

3. meningkatnya kreativitas kelompok pelaku utama untuk lebih aktif mencari inovasi teknologi dan informasi pasar, 

4. meningkatnya peran pelaku utama untuk mengakses permodalan dari lembaga keuangan, 

5. serta meningkatnya kesadaran pelaku utama terhadap pelestarian lingkungan hidup.

Untuk mencapai tujuan pembangunan kelautan dan perikanan, maka pengembangan sumberdaya manusia merupakan faktor kunci yang harus kita perhatikan salah satu upaya dalam mewujudkan hal tersebut adalah melalui reformasi dan revitalisasi sistem penyuluhan perikanan yang komprehensif untuk mengakselerasi perubahan perilaku baik pengetahuan,sikap dan keterampilan ke arah yang lebih baik, khususnya pada pembudidaya ikan, nelayan, pengolah hasil perikanan serta masyarakat perikanan lainnya.

Dalam rangka mengembangkan dan meyiapkan tenaga penyuluh yang profesional perlu memperhatikan beberapa hal yaitu : 

1.  penyuluh perikanan harus ahli dan terampil dan spesialis bidangnya (tidak polivalen);

2. penyuluh harus ditempatkan diwilayah kerja yang dominan dan potensial bagi pengembangan usaha perikanan; 

3) melaksanakan tugas pokok advokasi dan pendampingan untuk pengembangan usaha perikanan.

Profesionalisme dan kemandirian penyuluh perikanan tidak terlepas dari sistem, kelembagaan dan dukungan fasilitas pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk penerapan nilai-nilai organisasi secara konsisten untuk mendukung tercapainya program kerja penyuluhan secara menyeluruh. Secara faktual pembangunan perikanan pada saat ini masih menghadapi persoalan yang berhubungan dengan tranformasi pola pikir kepada masyarakat pelaku utama, untuk mau mengubah prinsip-prinsip yang cenderung subsistem kepada sikap adaptif untuk menerapkan managemen usaha, teknologi budaya ramah lingkungan, pengembangan kelembagaan, pengolahan hasil yang bernilai ekonomis tinggi, serta sistem pemasaran yang lebih baik dan benar. Perilaku dan sikap mental inilah yang harus dimilki terlebih dahulu oleh penyuluh sebagai modal untuk melaksanakan penyuluhan agar pelaku utama dan pelaku usaha mau dan mampu berubah.






ditulis oleh : Ahmad Furkon, S.Pi





Informasi Cuaca Maritim Untuk Nelayan

INFORMASI   CUACA   MARITIM   UNTUK   NELAYAN   TANGKAP Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh nelayan ...